Manajemen
Resiko
KONSEP RESIKO
Dunia penuh
ketidakpastian
Ketidakpastian
mengakibatkan adanya resiko (yang merugikan) bagi pihak-pihak yang
berkepentingan
Apalagi bagi
dunia bisnis, resiko tidak dapat diabaikan begitu saja
Oleh karena
itu, pengusaha harus selalu berusaha untuk menanggulanginya.
Artinya
berupaya untuk meminimumkan ketidakpastian agar kerugian yang timbul dapat dihilangkan
atau diminimumkan
Pengelolaan
berbagai cara penanggulangan resiko disebut Manajemen Resiko.
Langkah-langkah
pengelolaan resiko:
ü Berusaha mengidentifikasi unsur-unsur ketidapastian
dan tipe-tipe resiko yang dihadapi
ü Berusaha menghindari dan menanggulangi semua unsur
ketidakpastian, mis. Membuat perencanaan yg baik
ü Berusaha mengetahui korelasi dan konsekuensi antar
peristiwa, sehingga dapat diketahui resiko-resiko yang terkandung di dalamnya
ü Berusaha mencari dan mengambil langkah-langkah
(metode) untuk mennagani reiko-resiko yang telha berhasil diidentifikasi
(mengelola resiko yang dihadapi)
DEFINISI
RESIKO adalah
suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu
(Arthur Williams dan Richard M.H.)
Resiko adalah
ketidakpastian yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss)
(A.Abbas Salim)
Resiko adalah
ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto)
Resiko
merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan
(Herman Darmawi)
Resiko adalah
probabilitas seseuatu hasil/outcome yang berbeda dengan yang diharapkan (Herman
Darmawi)
Wujud Resiko
Ø Kerugian atas harta benda/kekayaan atau penghasilan,
misalnya yag diakibatkan oleh kebakaran, pencurian, pengangguran dsb.
Ø Penderitaan seseorang, misalnya sakit atau cacat
karena kecelakaan
Ø Tanggung jawab hukum, misalnya resiko dari perbuatan
atau peristiwa yang merugika orang lain
Ø Kerugian karena perubahan pasar, misalnya karena
terjadi perubahan harga, perubahan selera konsumen, dll.
Risiko Bisnis mengancam kelangsungan perusahaan yang
berhubungan dengan :
ü Penciptaan produk yang tidak sesuai dengan strategi
bisnis perusahaan
ü Pembangunan produk dimana bag. pemasaran tidak tahu
bagaimana harus menjualnya.
ü Kehilangan dukungan dari manajemen senior sehubungan
dgn perubahan manusia
ü Kehilangan hal-hal yg berhububungan dgn biaya
KETIDAKPASTIAN
ü KETIDAKPASTIAN EKONOMI (economic uncertaity), yaitu kejadian-kejadian yang
timbul sebagai akibat kondisi dan perilaku dari pelaku ekonomi, misalnya
perubahan sikap konsumen, perubahan selera konsumen, perubahan harga, perubahan
teknologi, penemuan baru, dsb.
ü KETIDAKPASTIAN ALAM (uncertainty of nature) yaitu ketidakpastian yang disebabkan oleh alam,
misalnya banjir, gempa bumi, kebakaran, dsb.
ü
KETIDAKPASTIAN
KEMANUSIAAN (human uncertainty)
yaitu ketidakpastian yang disebabkan oleh perilaku manusia mis.peperangan,
pencurian, penggelapan, pembunuhan, dsb.
Macam Resiko
Ø MENURUT SIFATNYA
ü Resiko yang tidak disnegaja (resiko murni), adalah
resiko yang apabila terjadi tentu menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa
disengaja, mis.bencana alam, kebakaran, kekacauan
ü Resiko yang disengaja(resiko spekulatif) adalah resiko
yang sengaja ditimbulkan oleh yang bersangkutan agar terjadinya ketidakpastian
memberikan keuntungan kepadanya, mis.resiko hutang piutang, perjudian,
perdagnagan berjangka (hedging), dll
ü Resiko fundamental adalah resiko yang penyebabnya
tidak dapat dilimpahkan kpd seseorang dan diderita byk org mis. Banjir, angin
topan
ü Resiko khusus adalah resiko yg bersumber pd peristiwa
yang mandiri dan umumnya mudah diketahui penyebabnya mis. Kapal kandas, pesawat
jatuh, tabrakan mobil
Menurut
Sumber/penyebab timbulnya resiko
Ø Resiko intern, yaitu resiko yang berasal dari dalam
perusahaan itu sendiri seperti kerusakan aktiva krn ulah karyawannya,
kecelakaan kerja, mis manajemen, dll.
Ø Resiko ekstern, yaitu resiko yang berasal dari luar
perusahaan seperti resiko pencurian, penipuan, persaingan, fluktuasi harga,
perubahan kebijakan pemerintah
MANAJEMEN RESIKO
Manajemen resiko adalah pelaksanaan fungsi-fungai manajemen dalam
penanggulangan resiko terutama resiko yang dihadapi oleh organisasi/perusahaan,
keluarga, dan masyarakat.
Ø Manajemen resiko mencakup kegiatan merencanakan,
mengorganisir, menyusun, mengkoordinir, dan mengawasi program penanggulangan
resiko
Ø Program manajemen resiko mencakup tugas-tugas:
mengidentifikasi resiko yg dihadapi, mengukur/menentukan besarnya resiko,
mencari jalam untuk menghadapi atau menanggulangi resiko, menyusun strategi
untuk memerkecil atau mengendalikan resiko, mengkoordinir pelaksanaan
penanggulangan resiko serta mengevaluasi program pennaggulangan resiko yang
telah dibuat.
BEBERAPA
ISTILAH
Ø PERIL
Adalah peristiwa atau kejadian
yang menimbulkan kerugian. Jadi merupakan kejadian/peristiwa penyebab langsung
terjadinya suatu kerugian, mis. Kebakaran, kecelakaan, pencurian
Ø HAZARD
Adalah keadaan dan kondisi
yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril. Mis. Jalan licin, tikungan
tajam.
HAZARD DAPAT DIBEDAKAN ATAS:
ü Physical Hazard
Adalah keadaan dan kondisi
yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril yg bersumber dar karakteristik
secara fisik dari objek, baik yg bisa diawasi/diketahui maupun yg tidak
ü Moral Hazard
Adalah keadaan dan kondisi
seseorang yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril yg bersumber pada sikap
mental, pandangan hidup, ekbiasaan orang yg bersangkutan. Mis. pelupa
ü Legal Hazard
Adalah perubahan yg
mengabaikan peraturan-perutaran atau perundangan2an yg berlaku (melanggar
hukum) sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya peril. Mis. Pelanggaran UU
keselamatan kerja
DEFINISI
Definisi konseptual mengenai resiko : (Robert Charette)
ü
Resiko berhubungan dengan kejadian di masa yg akan
datang.
ü
Resiko melibatkan perubahan (spt. perubahan
pikiran, pendapat, aksi, atau tempat)
ü Resiko melibatkan
pilihan & ketidakpastian bahwa pilihan itu akan dilakukan.
Pengertian
Pengelolaan perusahaan menurut Henry Fayol memiliki enam fungsi dasar:
kegiatan teknis, komersil, keuangan, keamanan, akuntansi, dan manajerial. Maka
manajemen resiko berkaitan dengan kegiatan keamanan yg bertujuan menjaga harta
benda dan personil perusahaan thd kerugian.
STRATEGI REAKTIF vs PROAKTIF
Ø Strategi reaktif memonitor perusahaan
terhadap kemungkinan resiko. Sumber-sumber daya dikesampingkan, padahal
seharusnya sumber-sumberdaya menjadi masalah yang sebenarnya / penting.
Ø
Strategi proaktif dimulai sebelum kerja teknis
diawali.
Resiko
potensial diidentifikasi, probabilitas & pengaruh proyek diperkirakan, dan
diprioritaskan menurut kepentingan, kemudian membangun suatu rencana untuk
manajemen resiko.
Sasaran
utama adalah menghindari resiko.
PEMBAGIAN
RESIKO
Karakteristik resiko :
ü Ketidakpastian
ü
Kerugian
Kategori resiko :
ü
@ Resiko proyek
ü Resiko proyek mengancam rencana proyek.
ü Bila resiko proyek menjadi kenyataan maka ada
kemungkinan jadwal proyek akan mengalami slip & biaya menjadi bertambah.
ü Resiko proyek mengidenifikasi :
- biaya - sumber daya
- jadwal - pelanggan
-
personil (staffing & organisasi)
-
masalah persyaratan
@ Resiko teknis
Ø
Resiko teknis mengancam kualitas & ketepatan
waktu pelaksanaan yg akan dihasilkan. Bila resiko teknis menjadi kenyataan maka
implementasinya menjadi sangat sulit atau tidak mungkin.
Ø
Resiko teknis mengidentifikasi :
-
desain potensial -
ambiquitas
-
implementasi -
spesifikasi
-
interfacing -
ketidakpastian teknik
-
verifikasi -
keusangan teknik
-
masalah pemeliharaan
-
teknologi yg leading edge
@ Resiko bisnis
Ø
Resiko bisnis mengancam kelanjutan operasi
perusahaan.
Ø Resiko bisnis
membahayakan produk/jasa yang dihasilkan.
5 RESIKO
BISNIS UTAMA
·
Resiko Pasar
·
Resiko
Strategi
·
Resiko
Pemasaran
·
Resiko
Manajemen
·
Resiko Biaya
Kategori resiko oleh Robert Charette
@ Resiko yg sudah diketahui
adalah resiko yg dpt diungkap
setelah dilakukan evaluasi secara hati2 terhadap rencana proyek, bisnis, &
lingkungan dimana operasi sedang dikembangkan, dan sumber informasi reliable
lainnya, seperti :
ü tgl penyampaian yg tdk realitas
ü kurangnya persyaratan yg terdokumentasi
ü kurangnya ruang lingkup proyek
ü lingkungan pengembangan yg buruk
@ Resiko yg dapat diramalkan
diekstrapolasi dari pengalaman
perusahaan sebelumnya.
Misalnya :
ü
pergantian
staf
ü
komunikasi yg buruk dgn para pelanggan
ü mengurangi
usaha staff bila permintaan pemeliharaan sedang berlangsung dilayani
@ Resiko yg tidak diharapkan resiko ini dapat
benar-benar terjadi, tetapi sangat sulit untuk diidentifikasi sebelumnya.
FUNGSI MANAJEMEN RISIKO
1.
Fungsi manajemen resiko lebih baik
dijelaskan dan dipahami melalui langkah-langkah dalam proses pengambilan
keputusan.
2.
Proses ini dimulai dengan mengenal berbagai
resiko yang sedang dihadapi (disebut identifikasi/diagnosa resiko)
3.
Selanjutnya resiko diukur, dianalisis
dan dievaluasi dalam ukuran frekuensi, keparahan dan variabilitasnya.
4.
Keputusan diambil untuk memilih dan
menggunakan metode-metode penanganan resiko (menanggung sendiri, menghindari,
mengasuransikan)
5.
Setelah metode penanganan resiko telah
dipilih, maka langkah berikutnya adalah rencana pengadministrasian program
secara melembaga.
STRATEGI
REAKTIF vs PROAKTIF
Strategi reaktif memonitor perusahaan terhadap kemungkinan resiko dan
merencanakan upaya penanggulangan resiko.
Strategi proaktif dimulai sebelum kerja diawali.
Resiko potensial diidentifikasi, probabilitas &
pengaruh operasi perusahaan, dan diprioritaskan menurut kepentingan, kemudian
membangun suatu rencana untuk mencegah terjadi resiko.
Sasaran utama adalah menghindari resiko.
FUNGSI MANAJEMEN RESIKO
1
Menemukan Kerugian Potensial
artinya berupaya
untuk menemukan/ mengidentifikasi seluruh resiko murni yang dihadapi
perusahaan, meliputi:
·
Kerusakan fisik atas harta kekayaan
perush
·
Kehilangan pendapatan akibat
terganggunya operasi perusahaan
·
Kerugian akibat tuntutan hukum dari
pihak lain
·
Kerugian yang timbul krn tindakan
kriminal
2. Mengevalusi
Kerugian Potensial
Artinya melakukan
evaluasi dan penilaian thd semua kerugian potensial yg dihadapi perush,
mengenai:
·
Besarnya kemungkinan frekuensi
terjadinya kerugian
·
Besarnya kegawatan dari tiap kerugian
·
Memilih teknik/cara yg tepat atau
menentukan suatu kombinasi dari teknik yang tepat guna menanggulangi kerugian.
IDENTIFIKASI
RISIKO
Identifikasi resiko adalah usaha sistematis untuk
menentukan ancaman terhadap rencana perusahaan.
Tujuan identifikasi risiko :
untuk menghindari resiko bilamana mungkin, serta
menghindarinya setiap saat diperlukan.
Tipe
risiko :
- risiko generik merupakan ancaman potensial pd setiap
kegiatan usaha.
- risiko produk spesifik hanya dapat
diidentifikasi dgn pemahaman khusus mengenai teknologi, manusia, serta lingkungan
yg spesifik terhadap operasi perusahaan.
Metode untuk mengidentifikasi resiko adalah menciptakan
checklist item risiko.
1.
Kategori checklist item resiko :
- resiko ukuran produk
- resiko yg mempengaruhi bisnis
- resiko yg dihubungkan dgn karakteristik pelanggan
- resiko definisi proses
- resiko teknologi yang akan
dibangun
- resiko lingkungan pengembangan
- resiko
yg berhubungan dgn ukuran dan pengalaman staf
MENILAI
PENGARUH RESIKO
Tiga faktor yg mempengaruhi konsekuensi jika suatu resiko
benar-benar terjadi :
ü
Sifatnya ; resiko yang
menunjukkan masalah yg muncul bila ia terjadi
ü
Ruang lingkupnya; menggabungkan kepelikannya (seberapa seriusnya masalah ini?) dengan
keseluruhan operasi perusaaan ( berapa banyak operasi perusahaan yg akan
dipengaruhi atau berapa banyak pelanggan terganggu?)
ü Timingnya; berkaitan dengan kapan dan untuk berapa lama pengaruh
itu dirasakan.
IDENTIFIKASI RISIKO
Identifikasi resiko adalah usaha sistematis untuk
menentukan ancaman terhadap rencana perusahaan.
Identifikasi resiko adalah suatu proses
dengan mana suatu perusahaan secara sistematis dan terus menerus
mengidentifikasi property, liability, dan personel exposures sebelum terjadinya
peril.
Tujuan identifikasi risiko :
untuk menghindari resiko bilamana mungkin, serta
menghindarinya setiap saat diperlukan.
Manfaat Daftar Kerugian Potensial
Ø
Mengingatkan Manajer Resiko tentang kerugian-kerugian yang dapat menimpa
bisnisnya
Ø
Sebagai tempat mengumpulkan informasi yg akan menggambarkan dgn cara apa
dan bgmn bisnis khusus yg dapat dimanfaatkan utk menanggulangi resiko potensial
yg dihadapi
Ø Sebagai
bahan perbandingan dalam mereview dan mengevaluasi program penanggulangan
resiko yg telah dibuat
SUMBER-SUMBER
INFORMASI UTK MEMBUAT DAFTAR KERUGIAN POTENSIAL
Ø Data
dari perusahaan asuransi
Ø Informasi
dari Badan Penerbitan Asuransi
Ø Informasi
dari Ikatan Manajer Resiko dan Asuransi
Ø Informasi/rilase
dari Kepolisian
Tipe
risiko :
Ø risiko
generik
merupakan ancaman potensial pd setiap proyek
atua kegiatan usaha.
Ø risiko
produk spesifik
hanya dapat diidentifikasi dgn pemahaman
khusus mengenai teknologi, manusia, serta lingkungan yg spesifik terhadap
operasi perusahaan.
Metode untuk
mengidentifikasi resiko adalah menciptakan checklist item
risiko.
KLASIFIKASI
KERUGIAN POTENSIAL
1.
Kerugian atas harta Kekayaan (property
exposure), yg meliputi:
Ø
Kerugian yg langsung dapat dihubungkan
dengan biaya penggantian atau perbaikan thd harta yang terkena peril mis.gedung
yg terbakar, peralatan yg dicuri. Jenis kerugian ini disebut kerugian langsung.
Ø Kerugian
yg tidak dapat secara langsung dihubungkan dgn peril yg terjadi yaitu kerugian
yg diakibatkan oleh rusaknya brg yang terkena peril. Disebut kerugian tdk
langsung
Ø
Kerugian atas pendapatan misalnya
sebagai akibat tidak berfungsinya alat produksi krn terkena peril.mis. Batalnya
kontrak penjualan krn perusahaan tdk berproduksi utk sementara waktu krn alat
produksinya rusak berat
2.
Kerugian berupa kewajiban kpd pihak
lain: adalah kerugian berupa kewajiban kpd pihak
lain yg merasa dirugikan akibat kesalahan bisnisnya. Mis.ganti rugi yg harus
diberikan perusahaan angkutan umum kpd penumpang yg cedera akibat kecelakaan yg
disebabkan oleh kesalahan pengemudi
3.
Kerugian personil (personel exposure)
Adalah kerugian
akibat peril yg menimpa personil atau orang-orang yg menjadi anggota dari
karyawan perusahaan (termasuk keluarganya). Mis. Kematian, ketidakmampuan krn
cacat, ketidakmampuan krn usia tua Kerugian yg menimpa keluarga karyawan akiat
kematian dan ketidakmampuan
Metode
identifikasi resiko :
Ø Menggunakan
daftar pertanyaan (quesioner) utk menganalisis resiko. Dari jawaban diharapkan
dpt diberikan petunjuk ttg dinamika informasi khusus
Ø Menggunakan
laporan keuangan, yaitu dgn menganalisis neraca, laporan operasi dan
catatan-catatan pendukung lainnya, akan dapat diketahui semua kekayaan, hutang
piutang,dsb.
Ø Membuat flow chart aliran barang mulai dari
bahan mentah sampai menjadi barang jadi akan dapat diketahui resiko-resiko yg
dihadapi pd masing-masing tahap aliran tsb.
Ø Dengan
inspeksi langsung ditempat, artinya dengan mengadakan pemeriksaan secara
langsung di tempat dimana operasi perusahaan dilakukan
Ø Mengadakan
interaksi dgn departemen lain dalam perusahaan, dgn cara:
a)
Mengadakan kunjungan ke departemen
lain sehingga dapat menjalin kerjasama
b)
Menerima, mengevaluasi, memonitor dan
menanggapi laporan-laporan dari departemen lain yg akan meningkatkan pemahaman
ttg aktivitas dan resiko yg dihadapi
Ø
Mengadakan interaksi dengan pihak
luar, artinya mengadakan hubungan dgn perusahaan lain terutama pihak-pihak yg
dapat membantu perusahaan dlm menanggulangi resiko spt.akuntan, penasehat
hukum, asuransi.
Ø
Melakukan analisis thd kontrak-kontrak
yg telah dibuat dgn pihak lain. Dari analisis tsb akan dapat diketahui
kemungkinan adanya resiko dari kontrak tsb
Ø
Membuat dan menganalisis catatan atau
statistik mengenai berbagi macam kerugian yg pernah diderita sehingga dapat
diperhitungkan kemungkinan terulangnya kerugian seklaigus penyebabnya.
Ø
Mengadakan analisis lingkungan yg sangat
diperlukan utk mengetahui kondisi yg mempengaruhi timbulnya resiko potensial
spt konsumen, pemasok, penyalur, pesaing, dan pemerintah.
Manajer
resiko dapat melakukan sendiri tugasnya utk mengidentifikasi resiko , namun
juga dapat menugaskan bawahannya atau menggunakan jasa pihak ketiga spt
konsultan manajemen, broker asuransi, atau perusahaan asuransi.
n
PENGUKURAN RESIKO
Setelah manajer resiko mengidentifikasi berbagai jenis resiko yang
dihadapi perusahaan, maka selanjutnya resiko itu harus diukur. Perlunya
pengukuran resiko adalah:
Ø Untuk menentukan relatif pentingnya
Ø Untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan
kombinasi peralatan manajemen resiko yang tepat untuk menanganinya
Dimensi yang harus Diukur
Informasi yang diperlukan berkenaan dengan dua dimensi resiko yang perlu
diukur yaitu:
Ø Frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi
Ø Keparahan dari kerugian tersebut
Dari penilaian tersebut, dapat diketahui:
Ø rata-rata nilainya dalam periode anggaran
Ø Variasi nilai dari satu periode anggaran ke periode anggaran
sebelum dan berikutnya
Ø Dampak keseluruhan dari kerugian-kerugian itu jika seandainya kerugian tersebut
ditanggung sendiri
KONSEP PROBABILITAS
Pengukuran kerugian menyangkut kemungkinan (probabilitas) dari kerugian
potensial. Maka dalam mengukur resiko seorang Manajer Resiko harus memahami
konsep probabilitas tersebut, sehingga strategi yang diterapkan tepat
Secara umum probabilitas: “kesempatan/kemungkinan terjadinya suatu
kejadian” atau “kemungkinan jangka panjang terjadinya sesuatu”
KONSEP “SAMPEL SPACE” DAN “EVENT”
Untuk mempelajari konsep probabilitas, perlu dipahami konsep sample space
dan event.
1.
Sample space (Set S)
adalah suatu set dari kejadian tertentu yang diamati.
Mis. Jumlah
kecelakaan mobil di wilayah Kota Malang selama 2009.
Suatu Set S biasanya
terdiri dari beberapa segmen yang disebut sub set atau event (Set E).
Mis. Jumlah kecelakaan
mobil terdiri atas segmen moobil pribadi dan mobil penumpang umum Untuk
menghitung secara cermat probablitas kecelakaan mobil tersebut, masing-masing
event perlu diberi bobot.
Pembobotan didasarkan
pada bukti empiris pengalaman sebelumnya
Dimana masing-masing
event mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga mempunyai probablitas yang
berbeda.
Mis. Untuk mobil pribadi diberi bobot 2, sedang utk mobip pengangkutan
umum diberi bobot 1, maka probabilitas kecelakaan mobil dapat dihitung dengan
rumus:
•
Bila tanpa bobot:
•
Bila dengan bobot:
Dimana:
P(E)
= probabilitas terjadinya event
E = sub set atau event
S = sample space atau set
w = bobot dari masing-masing event
n
Contoh: dari catatan
polisi diketahui bahwa jumlah kecelakaan mobil di Kota Malang selama 2008
sebanyak 10.000 kali, dimana dari jumlah tersebut yang 1.000 menimpa mobil
pribadi dan 9.000 menimpa mobil penumpang umum.
n
Maka probabilitas
terjadinya kecelakaan mobil pribadi adalah:
•
Tanpa bobot:
•
Dengan bobot
AKSIOMA DEFINISI PROBABILITAS
Probabilitas adalah suatu nilai/angka
yang besarnya berkisar antara 0 sampai 1, yang diberikan pada
masing-masing event
Jumlah hasil penambahan keseluruhan
probabilitas dari event-event (Set E) yang saling pilah dalam sample
space (Set S) adalah 1
Probabilitas suatu event yang terdiri dari sekelompok event yang saling
pilah dalam suatu set (sample space) merupakan hasil penjumlahan dari
masing-masing probablitas yang terpisah.
NILAI HARAPAN (EXPECTED VALUE)
Expected value dari suatu event dapat ditentukan dengan membuat tabel
(tabel binomial) untuk hasil-hasil yang mungkin diperoleh dari menilai
masing-masing hasil tersebut berdasarkan probabilitasnya.
Dengan menjumlahkan hasil dari masing-masing event akan diperoleh expected
valuenya.
Contoh: diketahui bahwa dari 100 buah rumah kemungkinan terbakarnya satu
rumah adalah 27% dan rata-rata kerugian untuk setiap kebakaran adalah Rp
100.000.000,-.
Maka expected lossnya adalah Rp 27.000.000,- (27% x Rp 100.000.000,-).
Bila kemungkinan terbakarnya dua rumah adalah 19%, maka expected lossnya:
Rp. 38jt (19%x2xRp100.000.000,-). Sehingga expected loss untuk satu rumah
sebesar Rp 19jt.
Kemudian bila kemungkinan terbakarnya sepuluh rumah adalah sebesar 1%
maka expected lossnya adalah
1% x 10 x Rp 100.000.000,- = Rp 10 jt
Maka
expected loss untuk satu rumah sebesar
Rp
1.000.000,-
2.
Konsep expected value
Konsep expected value sering ditemui terutama di dunia bisnis.
Misalnya: seorang kontraktor diminta membangun sebuag gedung dimana jika
semuanya berjalan baik ia akan mendapat keuntungan sebesar Rp 10.000.000.000,-
Karena menyadari selalu ada hal-hal yang tidak terduga, maka probabilitas
utk mendapatkan keuntungan diperkirakan hanya 80%, dimana yang 20% adalah
pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga.
Jadi expected value dari pekerjaan tersebut sebesar Rp 6.000.000.000,-
PENANGGULANGAN RESIKO
Setelah manajer resiko melakukan identifikasi dan mengukur resiko, maka
tahap selanjutnya adalah memilih cara penanggulangan resiko
Seorang manajer resiko pada prinsipnya
dapat menggunakan du pendekatan/cara menanggulangi resiko:
ü
Penanganan Resiko (Risk Control)
ü Pembiayaan Resiko (Risk
Financing)
1.
Penanganan Resiko
Beberapa metode yang dapat
digunakan:
a. Menghindari Resiko
Menghindari suatu resiko murni adalah
menghindarkan harta, orang atau kegiatan dari exposure, dengan cara:
ü
Menolak memiliki, menerima atau melaksanakan kegiatan
yang mengandung resiko, walaupun hanya sementara. Mis. Tidak mau menerima
pengemudi mabuk, tidak menjual barang secara kredit
ü
Menyerahkan kembali resiko yang terlanjur diterima atau
segera menghentikan yang diketahui mengandung resiko. Mis. Membatalkan
pembelian barang yang murah harganya stlh tahu barang tersebut adalah barang
selundupan
Beberapa karaktersitik penghindaran resiko segarusnya diperhatikan:
ü Boleh jadi tidak ada kemungkinan menghindari resiko. Mis.
Jika ingin menghindari semua resiko tanggung jawab maka semua kegiatan perlu
dihentikan
ü Manfaat atau laba potensial yang akan diterima sebab
kepemilikan suatu harta, mempekerjakan pegawai tertentu, atau bertanggung jawab
atas suau kegiatan, akan hilang jika melaksanakan penghindaran resiko
ü Makin sempit resiko yang dihadapi, maka akan semakin besar
kemungkinan akan tercipta resiko yang baru. Misalnya menghindari resiko
pengangkutan dengan kapal laut dan menggantinya dengan angkutan darat, akan
memunculkan resiko baru yakni resiko pengangkutan darat.
b. Mengendalikan Kerugian
Pengendalian kerugian bertujuan utk:
ü
Memperkecil kemungkinan terjadinya kerugian
ü Mengurangi keparahan bila
suatu resiko memang terjadi.
Tujuan tersebut dapat tercapai dgn cara:
ü
Melakukan tindakan pencegahan dan pengurangan kerugian.
Yakni berusaha untuk mengurangi atau jika bisa menghilangkan peluang terjadinya
kerugian
Misal
·
Peluang terjadinya kebakaran dapat dikurangi dgn
menggunakan konstruksi tahan api
·
Peluang kecelakaan kerja dapat dihindari dengan
menerapkan peraturan keselamatan kerja (masker, kaca mata las, dsb.)
·
Program pengurangan kerugian dapat dibedakan atas:
1
Program minimisasi (minimization program)
Program yang dijalankan sblm kerugian terjadi
atau selama kerugian sdg terjadi dengan tujuan membatasi besarnya kerugian.
Mis. Tindakan memadamkan kebakaran
2 Program penyelamatan
(salvage program)
Program
penyelamatan barang-barang yang selamat dari peril. Mis. Menyelamatkan barang2
yang tidak terbakar.
b. Program Pengendalian Kerugian Berdasarkan
Sebab-sebab terjadinya.
Ada dua macam pendekatan:
ü
Pendekatan engineering; program pengendalian yang
menekankan pada pengendalian sebab-sebab yang bersifat fisik dan mekanis. Mis. Memperbaiki
kabel listrik yang tidak memenuhi syarat
ü
Pendekatan hubungan kemanusiaan; menekankan pada
pencegahan terjadinya kecelakaan krn faktor manusia spt lengah, suka menantang
bahaya, tidak memakai alat keselamatan,
faktor psikologis.
Pengendalian kerugian menurut lokasi
Menurut
W.Haddon kemungkinan dan keparahan kerugian kecelakaan lau lintas tergantung
pada kondisi dari:
ü
Orang yang menggunakan jalan
ü
Kendaraan
ü Lingkungan umum jalan yg
meliputi faktor2 seperti desain, pemeliharaan, rambu-rambu, keadaan lalu lintas
Pengendalian
menurut timing
Pendekatan ini berkaitan dengan malsaah
kapan metode pencegahan/pengendalian digunakan, yg dapat terjadi:
ü
Sebelum terjadinya peril
ü
Selama terjadinya peril
ü Sesudah terjadinya peril
c. Pemisahan
Pemisahan artinya memisahkan penempatan
dari harta yang menghadapi resiko yang sama. Jadi dengan cara menambah
banyaknya”independent exposure unit” sehingga probabilitas kerugian dapat
diperkecil. Maksud pemisahan adalah utk mengurangi jumlah kerugian akibat
terjadinya peril.
d. Kombinasi atau Pooling
Adalah usaha menambah banyaknya exposure
unit dalam batas kendali perusahaan
dengan tujuan agar kerugian yang akan dialami lebih dapat diramalkan, sehingga
resikonya lebih kecil.
Mis. Perusahaan tranportasi memperbanyak
armadanya agar peluang terjadinya kecelakaan diperkecil
e. Pemindahan Resiko
Dapat dilakukan dengan cara:
ü
Harta milik atau kegiatan yang menghadapi resiko
dipindahkan ke pihak lain yang dinyatakan dgn tegas dalam transaksi atau
kontrak. Mis. Perusahaan menyerahkan pengangguktan produknya pd perusahaan
transportasi.
ü
Resikonya sendiri yang dipindahkan
mis.
Dalam perjanjian sewa menyewa rumah, biasanya pemilik rumah memindahkan resiko
kerusakan akibat kelalaian penyewa pada penyewa
2. Pembiayaan Resiko
Cara/metode yang dapat digunakan adalah:
a. Risk Financing Transfers ( Pemindahan resiko dengan pembiayaan)
Pemindahan resiko dengan cara ini berarti
pennaggung harus mencari dana eksternal utk membayar kerugian yang diderita
oleh tertanggung.
Dapat dilakukan dengan cara:
ü
Transfer resiko pada perusahaan asuransi
(mengasuransikan)
ü Transfer resiko pada
perusahaan yang bukan perusahaan asuransi (noninsurance transfer
Noninsurance transfer
Biasanya dilakukan melalui
kontrak-kontrak bisnis biasa atau melalui kontrak khusus utk pemindahan resiko.
Isi kontrak berkenaan dengan pemindahan
tanggung jawab atas kerugian thd:
ü
Harta kekayaan
ü
Net income
ü
Personil
ü Tanggung jawab kpd pihak
ketiga
b. Meretensi
Artinya perusahaan menanggung sendiri
resiko keuangan dari suatu peril dan merupakan bentuk penanggulangan resiko
yang paling umum.
Sumber dana penanggulangan resiko
ditanggung sendiri oleh perusahaan ybs.
Penanggulangan dapat bersifat pasif
(tidak direncakana) atau aktif (direncanakan)
Beberapa alasan mengapa suatu perusahaan
melakukan retensi dalam penanggulangan resiko:
ü
Merupakan keharusan krn tidak ada alternatif lain. mis.
Kerugian krn bencana alam, tindakan kriminal, keusangan, dll.
ü
Berdasarkan pertimbangan biaya, artinya jika dipindahkan
resiko tsb biayanya lebih mahal
ü Bila perkiraan expected loss
dari manajer resiko lebih rendah dari perkiraan perusahaan asuransi
ü Berdasarkan prinsip “opportunity cost” dimana
manajer resiko berpendapat bhw penggunaan dana utk kepentingan investasi lebih
menguntungkan drpd membayar premi
ü Kualitas layanan dari
penanggung dianggap kurang memuaskan dibandingkan dengan bila resiko tersebut
ditangani sendiri.
Kelemahan Retensi Resiko
Sering biaya yang dikeluarkan dengan
meretensi lbh besar dari biaya yang dibebankan perusahaan asuransi
Expected lossnya lebih besar dari yang
diperkirakan perusahaan asuransi
Exposure unitnya sedikit sehingga resiko
tinggi
Ketidakmampuan keuangan perusahaan utk
menopang maximum possible losses atau maximum probable losses dalam jangka
pendek
PEMBELANJAAN RESIKO (RISK FINANCING)
PENDAHULUAN
Membahas tentang pembelanjaan (pembiayaan) yang berhubungan dengan
cara-cara pengadaan dana untuk memulihkan kerugian, terdiri dari:
1 •
Risk financing
transfer (memindahkan resiko disertai dengan pembiayaan)
1• Risk retention
(resiko ditangani sendiri oleh perusahaan yang bersangkutan)
}
RISK FINANCING
TRANSFER
Memindahkan resiko
melalui risk financing berarti perusahaan pihak tertanggung mencari dana
eksternak yang akan membayar kerugian yang bersangkutan jika kerugian nanti
sungguh terjadi
Risk financing
transfer dapat dilakukan dengan cara:
·
Transfer
resiko kepada perusahaan asuransi
·
Transfer
resiko kepada perusahaan lain yang bukan perusahaan asuransi (non insurance
transfer)
Noninsurance
Transfer
Kebanyakan
pemindahan resiko kepada pihak non asuransi ini dilakukan melalui
kontrak-kontrak bisnis biasa, dan melalui kontrak khusus untuk pemindahan
resiko.
Banyak isi
kontrak berkaitan dengan pemindahan tanggung jawab keuangan atas:
·
Harta
·
Kerugian
atas net
income
·
Kerugian
personil
·
Tanggung gugat
kepada pihak ketiga
Noninsurance
transfer mempunyai beberapa keterbatassan yang harus diperhatikan oleh manajer
resiko
Kontrak mungkin hanya memindahkan sebagian resiko daripada resiko yang
menurut pendapat manajer telah dipindahkan kepda pihak luar. Karena itu manajer
harus mempelajari isi kontrak dengan hati-hati.
Bahasa yang tertulis di dalamnya adalah bahasa “hukum” yang sangat
sukar dipahami, akrean itu bisa salah emngerti
Surat kontrak bisa dibatalkan oleh pengadilan jika isinya bertentangan
dengan undang-undang atau peraturan pemerintah atau kebiajksanaan pemerintah
atau tidak wajar bagi
Contoh noninsurance risk financing transfer
·
Melalui suatu
perjanjian leasing, lessor bisa memindahkan kepada penyewa tanggung jawab
keuangan untuk kerusakan harta atau kecelakaan badan bagi pihak ketiga. Sebelum
ditandatangani perjanjian, tanggung jawab ada pada lessor
·
Melalui suatu
perjanjian lessing (lessee=penyewa) juga bisa menggeserkan kerugian
potensialnya kepada lessor, tergantung
atas bagaimana bunyi perjanjian. Dengan melakukan leasing, berarti lessee bebas
dari resiko turunnya harga barang yang
disewa, atau resiko keusangan ekonomis, maupun keusangan teknologi,
dibandingkan jika barang itu miliknya sendiri
·
Pemindahan resiko juga terjadi pada kontrak
pengririman barang, kontrak penyimpanan barang, kontrak pembuatan suatu
bangunan dan sebagainya, dimana dalam kontrak dicantumkan adanya pembayaran
premi resiko
·
Surety bond
Dalam kontrak
yang disebut surety bond terlibat 3 pihak, yaitu pihak surety (penjamin), pihak
obligee (yang dijamin) dan pihak participal
·
Neutralization
Merupakan proses menyeimbangkan peluang
kerugian atas peluang keuntungan. Contoh adalah hedging. Hedging dilaksanakan
dengan jalan misalnya bersamaan dengan pembuatan kontrak penjualan, maka
penjual mengadakan kontrak pembelian dengan pendagang lain untuk barang yang
sama jenisnya. Dengan demikian dapat ditutup resiko kenaikan harga, resiko
putusnya persediaan dan sebagainya.
MENANGGUNG SENDIRI RESIKO (RISK RETENTION)
}
Metode yang
paling umum dalam penanganan resiko
}
Sumber dana
diusahakan sendiri oleh perusahaan
}
Penanggungan
bisa bersifat pasif atau tidak direncanakan atau bisa bersifat aktif
(direncanakan)
RETENSI
DILAKUKAN SEBAB;
1.
Jika biaya
lebih rendah dari biaya yang dibebankan pihak perusahaan asurans
2.
Jika kerugian-harapan
(expected losess) lebih rendah dari perkiraan perusahaan asuransi
3.
Jika unit yang
mengahadapi resiko banyak, sehingga resiko akan menjadi lebih rendah
4.
Pembayaran
expense dan kerugian membengkak selama jangka waktu panjang, yang menhasilkan opportunity
cost yang besar
5.
Peluang yang
kuat bagi investasi yang mengakibatkan opportunity cost yang besar